2015 Koleksi Arsip
The Sacrifice of the Republic Lover
Akses Terbatas
Sultan Hamengku Buwono IX, saya merasa kagum karena dalam buku tersebut Kustiniyati Mochtar berani mengungkapkan siapa penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949. Sebab saat itu Suharto sedang kuat-kuatnya memimpin Indonesia. Suharto memiliki versinya sendiri tentang Serangan Umum 1 Maret ini.
Namun saat membaca buku Hamengku Buwono IX – Pengorbanan Sang Pembela Republik, kekaguman saya kepada Ngarso Dalem menjadi semakin besar. Buku ini mengungapkan begitu banyak peran beliau dalam menghidupkan dan menghidupi Republik Indonesia. Peran beliau secara politik, ekonomi dan militer terungkap dengan jelas dalam buku Seri Bapak Bangsa yang dikel uarkan oleh Tempo ini.
Hamengku Buwono IX (HB IX) adalah seorang yang mencintai Republik jauh sebelum Republik Indonesia lahir. Ngarso Dalem meyakini bahwa Republik akan berdiri setelah orang-orang Jepang meninggalkan Indonesia. Cinta beliau kepada Republik tidak hanya nyata pada saat awal berdirinya Republik, tetapi juga nyata pada saat Republik dalam kesulitan. Buku ini menggambarkan peran beliau saat ikut serta membidani lahirnya Republik, saat Republik bertikai dengan Belanda di akhir tahun 1940-an dan saat Republik mengalami kesulitan politik dan ekonomi di akhir era Sukarno serta di awal pemerintahan Suharto.
Sebagai seorang putra yang diberi gelar Pangeram Mangkubumi dan disemati Keris Jalak Puturun, Gusti Raden Mas Dorojatun mewarisi tahta Jogjakarta sepeninggal HB VIII. Namun proses pengangkatannya menjadi Sultan Jogja tidaklah mudah. Seperti Sultan-sultan sebelumnya harus ada kontrak politik dengan Belanda sebelum bisa di-jumeneng-kan. Pembahasan kontrak politik tersebut berlarut-larut karena GRM Dorojatun tidak mau Belanda mempunyai peran yang lebih besar dalam mengelola Keraton Jogjakarta. Namun karena dia mendapatkan wisik maka akhirnya dia bersedia menandatangani kontrak politik tersebut. Maka resmilah beliau bertahta di Kesultanan Ngayogjokarto Hadiningrat. Wisik itu mengatakan bahwa masa Belanda di Indonesia sudah tidak lama lagi.
Benar saja. Tepat 2 tahun beliau bertahta, Jepang datang ke Jawa. PB IX sadar bahwa Jepang bukanlah pihak yang akan memerdekakan Indonesia. Jepang justru akan membawa kematian yang lebih besar bagi rakyat Jogja. Oleh karena itu PB IX mengupayakan agar rakyat Jogja tidak menyetorkan padi kepada Jepang serta tidak menjadikan rakyatnya menjadi romusha. HB IX membuat laporan bahwa hasil panen di Jogja tidak berhasil. Kemaru panjang dijadikan alasan sehingga rakyat Jogja tidak perlu menyetorkan padi ke Jepang. Sedangkan untuk menghindari romusha, HB IX mengusulkan kepada Jepang supaya rakyat Jogja membangun saluran irigasi saja untuk meningkatkan hasil panen. Maka Jepang pun setuju, bahkan membantu pembangunan Selokan Mataram. Maka terhindarlah sebagian besar rakyat Jogja dari kekejaman Jepang.
HB IX adalah Sultan pertama di Indonesia yang menyetujui Proklamasi yang dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta di Jakarta. Dua hari setelah dikumandangkan HB IX mengirimkan telegram ucapan selamat kepada Sukarno-Hatta. Telegram tersebut kemudian disusul dengan maklumat untuk menggabungkan Kesultanan Jogjakarta kepada Republik Indonesia dengan status Daerah Istimewa. Padahal saat itu Sultan bisa saja membangun negara sendiri.
Namun saat membaca buku Hamengku Buwono IX – Pengorbanan Sang Pembela Republik, kekaguman saya kepada Ngarso Dalem menjadi semakin besar. Buku ini mengungapkan begitu banyak peran beliau dalam menghidupkan dan menghidupi Republik Indonesia. Peran beliau secara politik, ekonomi dan militer terungkap dengan jelas dalam buku Seri Bapak Bangsa yang dikel uarkan oleh Tempo ini.
Hamengku Buwono IX (HB IX) adalah seorang yang mencintai Republik jauh sebelum Republik Indonesia lahir. Ngarso Dalem meyakini bahwa Republik akan berdiri setelah orang-orang Jepang meninggalkan Indonesia. Cinta beliau kepada Republik tidak hanya nyata pada saat awal berdirinya Republik, tetapi juga nyata pada saat Republik dalam kesulitan. Buku ini menggambarkan peran beliau saat ikut serta membidani lahirnya Republik, saat Republik bertikai dengan Belanda di akhir tahun 1940-an dan saat Republik mengalami kesulitan politik dan ekonomi di akhir era Sukarno serta di awal pemerintahan Suharto.
Sebagai seorang putra yang diberi gelar Pangeram Mangkubumi dan disemati Keris Jalak Puturun, Gusti Raden Mas Dorojatun mewarisi tahta Jogjakarta sepeninggal HB VIII. Namun proses pengangkatannya menjadi Sultan Jogja tidaklah mudah. Seperti Sultan-sultan sebelumnya harus ada kontrak politik dengan Belanda sebelum bisa di-jumeneng-kan. Pembahasan kontrak politik tersebut berlarut-larut karena GRM Dorojatun tidak mau Belanda mempunyai peran yang lebih besar dalam mengelola Keraton Jogjakarta. Namun karena dia mendapatkan wisik maka akhirnya dia bersedia menandatangani kontrak politik tersebut. Maka resmilah beliau bertahta di Kesultanan Ngayogjokarto Hadiningrat. Wisik itu mengatakan bahwa masa Belanda di Indonesia sudah tidak lama lagi.
Benar saja. Tepat 2 tahun beliau bertahta, Jepang datang ke Jawa. PB IX sadar bahwa Jepang bukanlah pihak yang akan memerdekakan Indonesia. Jepang justru akan membawa kematian yang lebih besar bagi rakyat Jogja. Oleh karena itu PB IX mengupayakan agar rakyat Jogja tidak menyetorkan padi kepada Jepang serta tidak menjadikan rakyatnya menjadi romusha. HB IX membuat laporan bahwa hasil panen di Jogja tidak berhasil. Kemaru panjang dijadikan alasan sehingga rakyat Jogja tidak perlu menyetorkan padi ke Jepang. Sedangkan untuk menghindari romusha, HB IX mengusulkan kepada Jepang supaya rakyat Jogja membangun saluran irigasi saja untuk meningkatkan hasil panen. Maka Jepang pun setuju, bahkan membantu pembangunan Selokan Mataram. Maka terhindarlah sebagian besar rakyat Jogja dari kekejaman Jepang.
HB IX adalah Sultan pertama di Indonesia yang menyetujui Proklamasi yang dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta di Jakarta. Dua hari setelah dikumandangkan HB IX mengirimkan telegram ucapan selamat kepada Sukarno-Hatta. Telegram tersebut kemudian disusul dengan maklumat untuk menggabungkan Kesultanan Jogjakarta kepada Republik Indonesia dengan status Daerah Istimewa. Padahal saat itu Sultan bisa saja membangun negara sendiri.
Koleksi ini terbatas
Berkas arsip ini memerlukan akun member dengan izin khusus. Silakan masuk atau daftar terlebih dahulu—gratis dan terbuka bagi peneliti serta pelajar.
Masuk DaftarBerkas (1)
Buku HB IX
JPG · 1.7 MB
Terkunci